Minggu, 27 Maret 2016

SEJELEK-JELEK MAYIT



Pada suatu ketika sahabat Ukaf datang menghadap Rasulullah SAW.  Beliau kemudian bertanya, “Ya Ukaf, adakah engkau sudah menikah?” Jawab Ukaf, “Ya Rasulullah, saya belum beristri.”

Rasulullah bertanya lagi, “Adakah engkau memiliki hamba sahaya perempuan?”
Jawab Ukaf, “Saya tidak memilikinya, ya Rasulullah.”

Rasulullah bertanya lagi, “Adakah kamu mempunyai kekayaan?” Jawab Ukaf, “Ya, saya mempunyai kekayaan?”

Lantas Rasulullah bersabda, “Jika demikian keadaanmu, maka kamu adalah teman setan. Jika kamu pemeluk agama Nasrani, tentu menjadi seorang pendeta. Sungguh menikah adalah sunahku. Orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang beristri. Dan sejelek-jelek mayit adalah mayit orang yang tidak beristri.” (HR. Ahmad, dari Abu Dzar Ghifari)

Kamis, 24 Maret 2016

MANFAAT ILMU----BERBAGI PENGALAMAN




Waktu aku tinggal di desa kalo mau bermain internet harus di warnet. Aku pernah berjalan kaki sekitar 1 km dari rumah ke warnet. Suatu saat ketika melintasi jalan desa tetangga yang biasa aku lewati, aku mendapat inspirasi. 

Saat itu aku melihat penduduk desa tetangga sedang membuat jalan agar menjadi lebih bagus. Jalan akan dibeton. Lalu aku berpikir, "Jika jalan yang dibeton (aspal) hanya di desaku, sedangkan jalan-jalan di desa tetangga tidak dibeton (aspal). Ketika aku naik motor atau naik mobil bagus sekalipun sama juga. Aku akan mengalami kesulitan dalam perjalanan. Naik motor atau mobil bagus yang seharusnya nyaman, menjadi tidak nyaman lagi. Bahkan mungkin mobil yang kutumpangi akan terantuk batu atau terperosok di jalan." 

Begitu juga ilmu pengetahuan, hadist dan Al Qur'an. Jika hanya aku sendiri yang tahu seolah tidak ada gunanya. Aku lalu memberitahu orang lain di sekitarku. Aku memberitahu bapak, ibuku, saudaraku, temanku dan juga para tetanggaku. Aku melakukan hal itu sekitar 2 tahun yang lalu. 

Aku menganggap hal itu sebagai amal jariahku kepada orang tua, keluarga dan juga tetangga. Ilmu itu mahal harganya. Ilmu itu sulit ditemukan. Ilmu itu tidak terlihat dan tidak menarik bagi orang awam. Karena itu banyak orang enggan untuk mencari dan akhirnya tidak tahu. Tetapi orang yang berilmu (tahu) itu lebih baik daripada orang yang tidak berilmu (tidak tahu). 

Dari Ibnu Mas’ud RA, ia berkata, “Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Jumat, 18 Maret 2016

KEUTAMAAN MENGUCAPKAN: TIADA TUHAN SELAIN ALLAH




Nabi Musa AS bertanya, “Wahai Tuhanku, ajarilah aku suatu doa yang aku berdoa dan memohon kepada-Mu dengannya.”
Tuhan berfirman, “Wahai Musa, katakanlah: ‘Tiada Tuhan selain Allah’.”
Musa berkata,  “Setiap orang mengucapkan: ‘Tiada Tuhan selain Allah’.”
Allah berfirman, “Wahai Musa, seandainya langit yang tujuh dan bumi-bumi diletakkan pada satu telapak tangan, dan kalimat: ‘Tiada Tuhan selain Allah’ pada telapak tangan yang lain, maka kalimat: ‘Tiada Tuhan selain Allah’ akan lebih berat.”

****Sumber Buku: Menjadi Wanita Paling Bahagia-Special Untuk Wanita;DR. Aidh Al Qarni;Qisthi Press;2004;

Rabu, 09 Maret 2016

BERBAGI PENGALAMAN TENTANG SHALAT




Aku dulu pernah tidak shalat selama beberapa tahun. Kakakku Suraji (semoga Allah mengasihinya) pernah menanyakan kepadaku, “Kenapa kamu tidak shalat?” 
Aku menjawab, “Mas, kamu tidak bisa menasehatiku. Tetapi kamu hanya bisa mendoakanku.” Aku mengatakan yang demikian, karena dalam hatiku selalu bertanya, “Kenapa sekarang shalat  5 waktu itu terasa berat bagiku, padahal dulu rasanya mudah dan ringan sekali.” Setelah beberapa waktu berlalu, shalat menjadi sesuatu yang mudah untukku. Sampai saat ini aku meyakini dalam diriku, bahwa hidayah Allah datang karena doa kakakku.
Pada waktu di kota Semarang, temanku Khoiri Rozi (semoga Allah mengasihinya) heran ketika mengetahui tentang ketaatanku. Lalu ia bertanya kepadaku, “Apa yang menjadikanmu taat shalat? Padahal dulu kamu tidak shalat.” 
Aku menjawab, “Selama ini apa yang kuinginkan tidak segera kudapatkan. Kalau aku tetap tidak shalat maka aku rugi dua kali. Aku tidak mendapatkan keduniaan yang kuinginkan. Dan untuk akheratku juga berantakan. Sejak itu aku berusaha untuk shalat dan tepat waktu. Aku tidak ingin rugi dua kali.”