Sabtu, 23 April 2016

KELUARGA RASULULLAH SAW



Husain bin Ali memberikan keterangan, bahwa pada suatu waktu dia bertanya kepada Ali bin Abi Thalib tentang tata cara Rasulullah masuk ke rumah. Jawab Ali: ‘Apabila Rasulullah pulang ke rumah, membagi masuknya ke dalam tiga bagian. Satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarga, dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri.’ (HR. Tirmidzi)

Aisyah menerangkan: “Rasulullah apabila dihadapkan pada dua pilihan, pasti memilih yang paling mudah, sepanjang tidak  mengandung dosa. Bila mengandung dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhinya. Rasulullah sama sekali tidak pernah membalas kejelekan orang lain karena masalah pribadi. Bila telah menyinggung kehormatan Allah, maka beliau pasti membalasnya, yang balasan itu dimaksudkan untuk mencari ridha Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Suatu ketika terjadi perselisihan antara Rasulullah SAW dan Aisyah, hingga perlu mendatangkan Abu Bakar untuk menjadi penengah. Rasulullah SAW bersabda kepada Aisyah: “Ya Aisyah, engkau yang berkata dahulu, atau aku yang mengatakan masalah kita?” Aisyah menjawab: “Katakanlah lebih dahulu, asalkan yang benar!” Lantas mulut Aisyah dipukul oleh Abu Bakar hingga berdarah, seraya berkata: “Aisyah, adakah Rasulullah pernah berkata tidak benar?” Lalu Aisyah berlindung di belakang Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar: “Ya Abu Bakar, aku tidak mengundangmu untuk melakukan hal seperti itu, dan aku tidak akan membalas hal yang demikian.” (HR. Bukhari)

Aisyah menerangkan: “Aku tidak pernah melihat ahli masak melebihi Shafiyah. Suatu ketika dia memasak untuk Rasulullah, sementara beliau berada di rumahku. Aku merasa gelisah dan gemetar lantaran rasa cemburu mengganggu diriku. Lantas aku pecah piring besar wadah masakan itu, kemudian aku menyesal. Aku berkata kepada Rasulullah: ‘Ya Rasulullah, apakah sangsi terhadap perbuatanku itu?’ Jawab Rasulullah: ‘Gantilah wadah dengan wadah, makanan dengan makanan.’” (HR. Abu Dawud)

Dari Anas RA menerangkan bahwa: “Suatu ketika ada salah seorang istri Rasulullah yang menghadiahkan makanan roti di atas piring besar kepada beliau. Ketika itu Rasulullah sedang berada di rumah Aisyah, lalu tangan pelayan itu dipukul Aisyah, hingga piring itu jatuh dan pecah. Lalu Rasulullah mengambil roti yang berantakan itu, dan meletakkannya di atas pecahan piring, seraya berkata: ‘Wahai pelayan, makanlah roti ini. Ibumu kini sedang cemburu.’ Lantas pelayan itu pergi, hingga akhirnya datang kembali dengan membawa piring baru dari rumah Aisyah. Digantilah piring yang pecah dengan piring baru milik Aisyah.” (HR. Bhukari) 

Asiyah menerangkan: “Suatu ketika aku keluar bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan. Pada saat itu badanku masih kecil (ramping) sehingga belum mempunyai beban fisik yang berat. Rasulullah berkata kepada para sahabat: ‘Duluanlah kalian.’ Mereka pun kemudian berjalan lebih dahulu. Lalu Rasulullah berkata kepadaku: ‘Ya Aisyah kemarilah. Mari kita berlomba lari, tentu aku akan mengalahkanmu.’ Aku pun berlomba lari dengan Rasulullah, dan aku yang memenangkannya. Ketika badanku sudah gemuk, dalam suatu perjalanan yang lain, Rasulullah mengajakku kembali berlomba lari. Rasulullah berkata: ‘Ya Aisyah, kemarilah. Mari kita berlomba lari lagi, tentu aku akan mengalahkanmu.’ Pada waktu itu aku sudah tidak ingat lagi kalau aku pernah mengalahkan Rasulullah dalam lomba lari. Karenanya, aku berkata: ‘Ya Rasulullah, bagaimana aku dapat mengalahkanmu, sementara badanku segemuk ini?’ Kata Rasulullah: ‘Ayolah, yang penting kita berlomba lari.’ Dalam lomba lari kali ini dimenangkan Rasulullah hingga kemudian beliau tertawa, seraya berkata: ‘Ya Aisyah, ini adalah balasan dari kekalahanku tempo dulu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Aisyah RA pernah berkata kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, engkau mau dengan Shafiyah yang pendek itu?” Lalu Rasulullah SAW menyahut: “Engkau telah mengucapkan kalimat yang apabila dicampur dengan air laut, niscaya akan membuatnya keruh.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi; termasuk hadist hasan shahih)

Dalam riwayat lain Aisyah menerangkan bahwa pada suatu ketika kendaraan unta milik Shafiyah sakit, sementara Zainab memiliki unta lebih dari satu. Rasulullah SAW memerintahkan kepada Zainab: “Ya Zainab, berikanlah kepada Shafiyah satu ekor unta milikmu!” Zainab menjawab: “Adakah aku harus memberikan untaku kepada keturunan Yahudi itu?” Mendengar jawaban Zainab, Rasulullah SAW marah, hingga Zainab didiamkan selama bulan Dzulhijah, Muharam, dan beberapa hari dari bulan Shafar. (HR. Abu Dawud)


Aisyah meriwayatkan: “Aku tidak pernah melihat seorang yang paling serupa dengan Rasulullah mengenai ketenangan, keagungan, dan kecerahannya, kecuali Fatimah binti Rasulullah. Apabila dia datang mengunjungi Rasulullah, beliau segera bangkit untuk menyongsongnya, mencium dan mempersilahkan sang putri duduk di tempat duduk beliau. Begitu juga sebaliknya, bila Rasulullah datang mengunjungi sang buah hati, Fatimah langsung bangun untuk menyongsong beliau, mencium dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Aisyah meriwayatkan: “Suatu saat aku bermain-main di samping Rasulullah dengan mainanku. Lalu berdatangan teman-temanku, tapi mereka lalu bersembunyi lantaran malu kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah memanggil mereka agar bermain-main bersamaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pernah pula Rasulullah SAW mengajak Aisyah menyaksikan sebuah atraksi, dengan maksud agar Aisyah merasa senang dan gembira. Bahkan Rasulullah cukup lama menyaksikan atraksi tersebut, hingga Aisyah bersandar di bahunya sampai merasa puas. Dalam hal ini Aisyah memberikan keterangan: “Rasulullah pernah menutupiku dengan sorban, sedangkan aku menyaksikan orang-orang Habasyah beratraksi di dalam masjid. Aku menyaksikan atraksi itu hingga merasa puas dan bosan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Aisyah meriwayatkan: “Ketika itu Rasulullah baru saja pulang dari perang Tabuk atau perang Hunain. Pada rumah kecilku, ada penutup. Tutup itu terterpa angin hingga tersingkap. Pada saat itu Rasulullah melihat anak-anakan mainanku. Lalu Rasulullah bertanya: ‘Ya Aisyah, apakah itu?’ Jawabku: ‘Anak-anakan mainanku.’ Rasulullah melihat di antara mainanan anak-anakan itu terdapat seekor kuda yang memiliki dua sayap dari kain. Lalu Rasulullah bertanya: ‘Ya Aisyah, aku melihat sesuatu  di antara mainan yang banyak itu bukan  sebuah anak-anakan. Apakah itu?’ Jawabku: ‘Kuda-kudaanku.’ Rasulullah bertanya lagi: ‘Apakah yang berada di atasnya?’ Jawabku: ‘Dua sayap.’ Rasulullah bertanya lagi: ‘Adakah kuda memiliki sayap?’ Jawabku: ‘Bukankah engkau telah mendengar bahwa nabi Sulaiman memiliki sekumpulan kuda yang bersayap?’ Seketika itu pula Rasulullah tertawa hingga kelihatan giginya.” (HR. Bukhari dan Muslim; dan termasuk hadist hasan shahih)


Kamis, 14 April 2016

KEUTAMAAN BERSABAR KETIKA DICACI

Suatu hari, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertandang ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum.

Kemudian, orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum.

Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut. Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini, selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!"

Rasulullah SAW menjawab, "Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnahan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas, aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian, dan aku tersenyum karena ribuan malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu, kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Begitu pun yang kedua kali, ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu. Hadirlah Iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya."

Setelah itu menangislah Abu Bakar ketika diberitahu tentang rahasia kesabaran bahwa itu adalah kemuliaan yang terselubung.

Minggu, 27 Maret 2016

KISAH CINTA ALI BIN ABI THALIB DAN FATHIMAH AZZAHRA


Ada sebuah kisah cinta menarik di jaman Rasulullah dulu, yaitu kisah cinta Ali dan Fathimah. Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
 
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakar Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
“Allah mengujiku rupanya,” begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali. Namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah, sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakar berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. “Inilah persaudaraan dan cinta,” gumam ’Ali.
“Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakar ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?  Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, “Aku datang bersama Abu Bakar dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan ’Umar.”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. “Wahai Quraisy,” katanya. “Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak dari ’Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
***
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mempererat kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
“Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. “Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.”
“Aku?”, tanyanya tak yakin.
“Ya. Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
“Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
***
“Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, “Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
“Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
“Entahlah.”
“Apa maksudmu?”
“Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban?"
Wahai Ali..., satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya... !”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda...”
‘Ali terkejut dan berkata, “Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? Dan siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah dirimu...”
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”
Kemudian Rasulullah SAW mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.”

Sumber: 
Kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, Bab 4
pengumpulhikmah.blogspot.com
http://sepercikhikmah.blogspot.co.id/2016/02/inilah-kisah-cinta-sayyidina-ali-dan.html

SEJELEK-JELEK MAYIT



Pada suatu ketika sahabat Ukaf datang menghadap Rasulullah SAW.  Beliau kemudian bertanya, “Ya Ukaf, adakah engkau sudah menikah?” Jawab Ukaf, “Ya Rasulullah, saya belum beristri.”

Rasulullah bertanya lagi, “Adakah engkau memiliki hamba sahaya perempuan?”
Jawab Ukaf, “Saya tidak memilikinya, ya Rasulullah.”

Rasulullah bertanya lagi, “Adakah kamu mempunyai kekayaan?” Jawab Ukaf, “Ya, saya mempunyai kekayaan?”

Lantas Rasulullah bersabda, “Jika demikian keadaanmu, maka kamu adalah teman setan. Jika kamu pemeluk agama Nasrani, tentu menjadi seorang pendeta. Sungguh menikah adalah sunahku. Orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang beristri. Dan sejelek-jelek mayit adalah mayit orang yang tidak beristri.” (HR. Ahmad, dari Abu Dzar Ghifari)

Kamis, 24 Maret 2016

MANFAAT ILMU----BERBAGI PENGALAMAN




Waktu aku tinggal di desa kalo mau bermain internet harus di warnet. Aku pernah berjalan kaki sekitar 1 km dari rumah ke warnet. Suatu saat ketika melintasi jalan desa tetangga yang biasa aku lewati, aku mendapat inspirasi. 

Saat itu aku melihat penduduk desa tetangga sedang membuat jalan agar menjadi lebih bagus. Jalan akan dibeton. Lalu aku berpikir, "Jika jalan yang dibeton (aspal) hanya di desaku, sedangkan jalan-jalan di desa tetangga tidak dibeton (aspal). Ketika aku naik motor atau naik mobil bagus sekalipun sama juga. Aku akan mengalami kesulitan dalam perjalanan. Naik motor atau mobil bagus yang seharusnya nyaman, menjadi tidak nyaman lagi. Bahkan mungkin mobil yang kutumpangi akan terantuk batu atau terperosok di jalan." 

Begitu juga ilmu pengetahuan, hadist dan Al Qur'an. Jika hanya aku sendiri yang tahu seolah tidak ada gunanya. Aku lalu memberitahu orang lain di sekitarku. Aku memberitahu bapak, ibuku, saudaraku, temanku dan juga para tetanggaku. Aku melakukan hal itu sekitar 2 tahun yang lalu. 

Aku menganggap hal itu sebagai amal jariahku kepada orang tua, keluarga dan juga tetangga. Ilmu itu mahal harganya. Ilmu itu sulit ditemukan. Ilmu itu tidak terlihat dan tidak menarik bagi orang awam. Karena itu banyak orang enggan untuk mencari dan akhirnya tidak tahu. Tetapi orang yang berilmu (tahu) itu lebih baik daripada orang yang tidak berilmu (tidak tahu). 

Dari Ibnu Mas’ud RA, ia berkata, “Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)